Wae Rebo NTT

Kehangatan Wae Rebo Membekas Dihati

Oktober 7, 2015
Blog

Setelah melewati perjalanan panjang mengendarai motor dari Kota Ruteng NTT akhirnya kami tiba di Desa Denge. Desa terakhir untuk menuju Desa Wae Rebo. Sambutan hangat dari keluarga Bapak Blasius membuat kami semakin semangat menuju Wae Rebo. Di Desa Denge rumah Bapak Blasius inilah kami bisa beristirahat dan menitipkan kendaraan kami, karena rute selanjutnya untuk menuju Wae Rebo hanyalah dengan berjalan kaki dengan jarak tempuh 9 km.

Pendakian menuju Kampung Adat Wae Rebo ini melewati lereng bukit yang sangat alami, sungai yang indah, dan kicauan burung yang menemani pendakian. Terdapat perbukitan yang memiliki alur sebagai jalan setapak utama. Alur inilah yang digunakan oleh masyarakat sekitar untuk mengangkut bahan ke Desa Denge untuk kemudian di jual, ataupun masyarakat yang membawa bahan makanan untuk dibawa ke kampung adat Wae Rebo. Jalanan ini juga yang digunakan pleh wisatawan untuk berkunjung ke Kampung adat Wae Rebo. Maka wajar kiranya dalam perjalanan wisatawan dan masyarakat bertemu untuk sekedar tegur sapa.

Wae Rebo NTT
Wae Rebo NTT

Setelah berjalan mendaki selama kurang lebih 4 jam, akhirnya kami tiba di kampung Adat Wae Rebo. Masyarakat yang tersenyum ramah menjadikan titik sambutan yang mereka lakukan kepada setiap pengunjung. Disini Tak ada sekolah, pun tak ada rumah-rumah mewah, hanya ada tujuh rumah super sederhana nan unik yang menghuni desa yang diselimuti kabut-kabut mesra penuh dendang kedamaian di pulau Flores ini. Mbaru Niang yang dalam bahasa Manggarai berarti rumah kerucut itu adalah rumah tradisional yang berasal dari desa mini suku Wae Rebo di Kabupaten Manggarai Nusa Tenggara Timur. Mbaru Niang terlihat seperti tumpeng super besar yang diletakkan di tanah, bentuk kerucut di Mbaru Niang lebih mendominasi dengan atap yang hamper menyentuh tanah. Atap yang digunakan rumah adat Mbaru Niang ini menggunakan daun lontar.

Setelah kami mengobrol banyak dengan masyarakat sekitar, ternyata keunikan Mbaru Niang tidak hanya pada bentuknya saja. Namun juga memiliki fungsi yang berbeda-beda setiap lantainya. Pada lantai pertama rumah ini yang disebut luntur (tenda) akan digunakan oleh si pemilik rumah untuk melakukan aktifitas sehari-hari. Lantai kedua yang disebut lobo adalah tempat menyimpan bahan makanan/barang. Lantai ketiga disebut lentar adalah tempat menyimpan benih tanaman untuk bercocok tanam. Lantai empat disebut lempa rae adalah tempat menyimpan stock cadangan makanan yang berguna saat hasil panen kurang banyak. Sedangkan pada lantai kelima yang terdapat di puncak rumah digunakan untuk menyimpan aneka sesajian si pemilik rumah.

Kampung dengan julukan negeri di atas awan ini sungguhlah sangat harmoni, dengan landscape alam yang eksotis. Pun dengan keramahan masyarakatnya yang hidup penuh rukun dalam kesederhanaan. Udara pegunungan yang segar, sumber air bersih yang berlimpah dan tanah yang subur memenuhi sebuah kebutuhan pokok manusia untuk hidup dan bertahan disini. Adat istiadat yang terjaga turun temurun sebagai struktur kehidupan, melengkapi harmoni manusia dengan alam tempat mereka tinggal.

Proses perjalanan yang terus jalan karena tidak menginap di kampung Wae Rebo membuat perjalanan kami ini harus dipercepat. Walau hanya sebentar, perjalanan panjang terbayar usai langsung berinteraksi dengan masyarakat Kampung adat Wae Rebo dan utamanya alam Wae Rebo itu sendiri. Jepretan kamera dalam bingkai gambar maupun video menjadi kenangan yang tidak terlupakan.

Seakan belum bisa beranjak, dengan berat hati saya mulai melangkahkan kaki meninggalkan Wae Rebo dan kembali menuju Desa Denge. Setelah beberapa menit berjalan, saya berhenti melangkah dan membalikkan badan untuk melihat Wae Rebo dari kejauhan untuk yang terakhir kalinya. Ini bukan yang terakhir! Jika diberikan kesempatan, saya pasti kembali kesini lagi.

Sebuah senyum mengembang, bersama sebuah harapan. Harapan akan berlanjutnya harmoni indah antara manusia dan alam. Sebuah paduan yang indah dalam kesederhanaan, dan bisik hati yang selalu meruap ketika melihat warna hidup warga, adalah kualitas kesehatan dan kehidupan yang semakin baik dari waktu ke waktu.

Perjalanan kami kembali menuju Kota Ruteng dengan mengendarai motor menjadi malam yang tidak akan kami lupakan, udara yang jauh dari polusi membuat langit malam saat itu terlihat bak hamparan permadani bertabur permata. Jutaan bintang bersinar dalam kehenigan malam yang dingin. Bayangan tujuh Niang yang gagah, keramahan warga sekitar, tawa canda anak-anak Wae Rebo dan indahnya kehidupan masyarakat lainnya  akan selalu tersimpan didalam hati.

Warisan budaya seperti ini yang patut kita jadikan acuan untuk lebih lagi menjaga apa yang Indonesia miliki. Lebih mengenal tentang Indonesia dan seluruh isinya adalah hal yang lebih berguna daripada hanya merasa bangga menjadi anak bangsa tanpa mengetahui  harta karun dalam negerinya. Jadilah anak bangsa yang bangga karena tau akan apa yang iya banggakan terhadap negerinya. Dengan begitu rasa cinta dan saling menjaga akan terus tercipta antara Negara dan anak bangsanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *