Tegal Alun Papandayan

Pesona Tegal Alun Papandayan

Oktober 7, 2015
Blog

Malam yang dingin di Gunung Papandayan beranjak larut menyimpulkan ke sunyian. Mata-mata sayup mulai tergambar dari wajah-wajah para pendaki nusantara. Sleeping bag tebal menunggu mereka di dalam tenda, bukan halnya kasur yang biasa mereka tiduri dirumah, melainkan matras hitam yang setia menemani sampai tertidur pulas. Tak terasa berapa derajat celcius dinginnya malam di lewati bersama mimpi. Kicauan burung terdengar kala pagi itu. Sembah sujud tak lupa di panjatkan.

Tegal Alun Papandayan
Tegal Alun Papandayan

Sebuah papan nama siap menyambut, “Selamat datang di Tegal Alun”. Waktu seakan terhenti beberapa saat, tepat setelah lensa mata berhasil menangkap hamparan Bunga Edelweis yang tidak hanya cantik, namun juga terbentang luas kurang lebih 35 hektar. Bunga Edelweis yang melegenda. Bunga Abadi yang hanya akan didapatkan di pegunungan dengan ketinggian tertentu. Bunga yang tidak semua orang dapat mengaguminya secara langsung dan disini kalian menghadapinya.

Timbul adanya rasa canggung didalam dada, sangat canggung. Mata yang masih silau akan kecantikannya. Perasaan haru bahagia telah melangkah sejauh ini menambah rasa rendah diri kalian. Tanpa perlu berpikir panjang, segala memory card yang telah terpasang di kamera terlalu sayang untuk sekedar kalian kosongkan, hasilkanlah beberapa pose berlatar padang Edelweis untuk menempati persediaan tempat di memory itu.

Sesuai janji yang telah dibuat para pendaki dan para pecinta alam nusantara yang sejati. Janji yang selayaknya dilakukan oleh pendaki dimanapun berada. Janji yang sudah tentu tak asing bagi mereka yang mencintai alamnya. Janji yang terucap adalah Jangan ambil sesuatu kecuali foto. Jangan bunuh sesuatu kecuali waktu. Jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak. Begitulah janji yang telah dibuat.

Pecinta alam sejati adalah orang yang setia, maka seharusnya janji ini sama sekali tak diingkari. Hanya bercengkrama dan saling sapa terhadap apapun yang ada. Tak lebih dan tak kurang. Sampai pada akhirnya waktu untuk beranjak meninggalkan Tegal Alun pun tiba. Ada rasa tak sampai hati untuk meninggalkan keindahan Edelweis sebenarnya. Bahkan keindahan Edelweis yang sedang berada di musim layunya. Manusiawi jika ada keinginan memetik dan membawa Edelweis bersama untuk menemani disepanjang sisa perjalanan. Namun janji tetaplah janji. Seperti laykanya keyakinan lain bahwa, “Kalau cantik jangan dipetik, tapi dijaga. Begitulah cara menyayangi”.

Inilah keindahan nyata Tegal Alun Gunung Papandayan. Pemandangan yang tak mampu membendung imajinasi, imajinasi akan keindahan yang belum pernah terjamah sebelumnya. Imajinasi semakin liar beradu dengan seluruh keindahan ciptan Tuhan. Udara segar Tegal Alun berhasil mengalir bersama darah keseluruh tubuh. Mendesir mesra disetiap saluran nadi.

Papandayan akan selalu ada untuk kita singgahi kembali. Akan tetap indah untuk kita datangi di saat kapan pun nanti. Menyuguhi kita dengan segala eksotismenya.

Ayo datang ke Papandayan! Nikmati keindahannya dan jaga kelestariannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *