Gunung Papandayan

Senandung Cinta Gunung Papandayan

Oktober 7, 2015
Blog

Hallo Indonesia! Birunya langit dan jernihnya udara pagi seolah memberi ucapan selamat datang kepada para pengunjung Gunung Papandayan. Terdengar helaan nafas para pendaki saat pertama kali menatap dari kejauhan tebing cadas yang menjadi pemandangan utama gunung ini. Aroma khas Papandayan dan bau belerang bercampur getas pohon-pohon cantigi membuat para pendaki semakin semangat melangkahkan kaki.

Papandayan bagaikan magnet yang terus-menerus menarik semua orang untuk datang dan datang lagi. Papandayan akan selalu membuat jatuh cinta. Cinta yang akan tetap bersemi didalam sanubari para pendaki.

Gunung Papandayan
Gunung Papandayan

Berlarilah bebas ke hutan, ke ujung semak dan saksikanlah dengan tenang teatrikal matahari.  Karena apa? Karena perubahan warna langit selalu menarik untuk dinikmati. Menyaksikan keindahan matahari saat berpulang dan sebaliknya di Gunung Papandayan akan berhasil menyadap separuh focus kalian.

Kalian dapat terus berjalan, kemudian menyusuri jalan berbatu di area kawah. Asap yang terus-menerus keluar dari kepundan, belerang serupa bedak bayi berwarna kuning, anak-anak sungai yang mengalirkan air hangat, satu persatu akan tertangkap retina mata, kemudian berputar di otak dan membuat perjalanan kalian menjadi lebih tenang.

Tak jarang dalam pendakian kalian akan bertemu penduduk desa yang sedang membawa satu atau dua karung hasil bumi berupa umbi-umbian seperti kentang atau buah-buahan dan sayuran yang ia angkut diatas motornya, kalian akan melihat mereka yang kemudian dengan penuh waspada mengendalikan laju kendaraannya di jalur kawah yang amat berbahaya. Mungkin perjalanan menegangkan tersebut dilakoninya karena terpaksa demi mencari penghidupan. Jalan terjal berliku dan berbatu adalah salah satu tantangan setiap hari yang harus mereka hadapi.

Tersihir karena pemandangan jalur pendakian yang begitu menakjubkan, hingga tak terasa tibalah kalian di hutan mati papandayan.  Hutan mati yang timbul akibat erupsi terakhir pada tahun 2002 lalu menjadi daya tarik bagi siapapun.  Tanah gembur mengandung sulfur ini tetap setia menjadi tempat berdiri pohon-pohon kering menghitam akibat letusan hebat Papandayan ratusan tahun silam.

Hutan ini seperti musium pengawetan karena menyimpan ratusan dan mungkin ribuan pohon sebagai saksi sejarah. Membuat siapa saja terpukau dan takjub menatap para saksi sejarah ini. Saksi yang menjadi korban dan tidak pernah bisa menyelamatkan diri dari gempuran aliran lava pada letusan tahun 2002 silam. Disini kita dapat mengamati, menikmati, dan menghayati arti semua ini. Arti kecintaan ini. Arti kerinduan ini. Arti kehidupan dan arti kehadiran kita di muka bumi ini.

“PUNCAK”. Sebuah anak panak mengarah lurus ke atas. Itu berarti masih ada dua jam jauhnya untuk sampai ke puncak. Untuk kalian yang tidak dapat sampai ke puncak, jangan khawatir karena Tegal Alun, padang Edelweise yang tak kalah asri berjarak tak jauh dari arah hutan mati dan kalian dapat meluapkan rasa lelah kalian di tempat ini.

Damai pun bersemi dalam hati, siapa saja akan dibuat larut dalam alunan sunyi Tegal Alun. Belaian lembut kesunyian yang melenakan. Membuat kalian hanya ingin berbaring terlentang menatap awan-awan yang beriringan, memberi arakan putih pada langit yang biru tenang. Inilah si cantik itu, yakni gunung indah tempat bernaungnya kawah-kawah. Tempat memantulnya cahaya lembayung senja nan indah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *